Kementan Genjot Serapan KUR dan Penggunaan Teknologi Pertanian di Daerah - idnews.co.id

Kamis, 27 Mei 2021

Kementan Genjot Serapan KUR dan Penggunaan Teknologi Pertanian di Daerah

IDNEWS.CO.ID -  Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot serapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian di daerah. Sebagaimana diketahui, tahun ini dana KUR Pertanian dialokasikan sebesar Rp70 triliun, meningkat dari tahun lalu yang dialokasikan sebesar Rp50 triliun.

P


Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menjelaskan, KUR Pertanian ini akan berguna untuk hilirisasi pascapanen. Ke depan, kata dia, petani seharusnya tidak hanya jual gabah saja, tapi juga harus bisa menjual beras. Penggilingan beras di desa-desa harus ditumbuhkan.

"Dari data yang diperoleh pada tahun 2020 pengembalian dana pinjaman KUR di sektor pertanian cukup sehat bagi sektor perbankan. Nilai Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet hanya 0.6 persen dari total nilai pinjaman KUR," papar Ali, Rabu (26/5/2021).

Menurut Ali, tujuan KUR Pertanian di antaranya untuk meningkatkan dan memperluas akses pembiayaan kepada usaha produktif, meningkatkan kapasitas daya saing usaha mikro, kecil dan menengah serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Saat ini, Ali memaparkan, serapan KUR tertinggi terjadi untuk sektor tanaman pangan yang mencapai Rp16,2 triliun atau 29,14 persen dengan 719.336 debitur.

Selain tanaman pangan, serapan KUR tersalurkan untuk perkebunan Rp18 triliun, hortikultura Rp7 triliun, peternakan Rp10,6 triliun, jasa pertanian Rp779 miliar, dan kombinasi pertanian Rp3,1 triliun.

"Penyerapan KUR Pertanian masih didominasi sektor hulu. Kami akan mendorong juga pemanfaatan KUR di sektor hilir, seperti untuk pembelian alat pertanian. Sektor hulu selama ini dianggap lebih mudah diakses karena tidak memerlukan agunan. Padahal KUR dengan plafon besar pun sebenarnya akan mudah diakses jika digunakan untuk pembelian alat," tutur Ali.

Tak hanya KUR, Ali juga mendorong penerapan teknologi pertanian agar bisa diterapkan di daerah-daerah. Salah satunya melalui distribusi alat mesin pertanian (alsintan).

"Penggunaan alsintan sebagai penanda bahwa sistem pertanian kita sudah bergerak maju ke arah pertanian yang maju, mandiri dan modern," tutur Ali.

Saat menjadi narasumber di Indonesia Food Summit 2021, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan jika mekanisasi dan penggunaan teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembangunan pertanian modern. Apalagi, secara jelas sudah disampaikan Presiden Joko Widodo dalam arahannya ketika membuka Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021.

“Bapak Presiden waktu itu menyampaikan bahwa penerapan teknologi pertanian diharapkan mampu menekan biaya produksi menjadi lebih murah sehingga menciptakan harga yang kompetitif dari produksi komoditas pertanian nasional,” kata Mentan SYL.

Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen PSP Kementan, Indah Megahwati menambahkan, KUR pertanian sangat produktif, terutama untuk komoditi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan.

Indah melanjutkan, salah satu strategi peningkatan penyerapan KUR pertanian adalah dengan mendorong pemanfaatan di sektor hilir. "Kami mendorong pemanfaatan KUR untuk pembelian alat pertanian," ucapnya.

Menurut Indah, selama ini pemanfaatan KUR pertanian memang masih terkonsentrasi di sektor hulu atau budidaya. Padahal KUR pertanian sektor hulu hanya sebatas KUR mikro dengan plafon Rp 5-50 juta.

Sektor hulu, kata Indah, selama ini dianggap lebih mudah diakses karena tidak memerlukan agunan. Padahal KUR dengan plafon besar pun sebenarnya akan mudah diakses jika digunakan untuk pembelian alat.

"Plafon Rp500 juta ke atas pun bisa diakses. Soalnya ada agunannya berupa alat pertanian yang dibeli. Selain itu bunganya tetap hanya enam persen," kata Indah.(ndi)

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments