Petani Tambak Udang dan Ikan Rugi Puluhan Ton akibat Banjir di Aceh - idnews.co.id

Rabu, 05 Januari 2022

Petani Tambak Udang dan Ikan Rugi Puluhan Ton akibat Banjir di Aceh

IDNEWS.CO.ID - Bencana banjir yang terjadi sejak pekan lalu di wilayah pesisir utara dan timur Aceh, mengakibatkan sentra produksi perikanan budidaya di Kota Lhokseumawe gagal panen. Kerugian ditaksir puluhan ton.

Puluhan hektar tambak udang vaname, ikan bandeng dan nila di kawasan Kecamatan Blang Mangat, Lhoksumawe tergenang. Budidaya udang di sana dikelola oleh Kelompok Tani (Koptan) Jak U Neuheun, terletak di Kemukiman Meuraksa terdiri dari Gampong Teungoh dan Gampong Tunong.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Lhokseumawe, Azhar, mengatakan kerusakan tambak cukup berat, bahkan setelah dihantam banjir seluruh perikanan budidaya lepas dibawa arus. “Kerugian petani tambak sudah tidak terhitung lagi, selama ini petani menggeluti budidaya udang vaname, ikan nila dan ikan bandeng kualitas ekspor,” kata Azhar didampingi Wakil Ketua Koptan Jak U Neuheun, Abdul Rauf, Kamis (6/1/2022).

Kata Azhar, banjir membuat petani tambak merugi, karena praktis peternakan budidaya yang tinggal panen habis terbawa arus, padahal sebagian modal petani adalah hutang dengan pihak ketiga.

Petani tambak budidaya di Kecamatan Blang Mangat merupakan kawasan sentra utama penghasil perikanan budidaya di wilayah Lhokseumawe, yang dikelola secara tradisional. Untuk tambak udang, sekali panen mampu menghasilkan 5 ton sampai 10 ton udang vaname, atau kisaran 300 kilogram per hektar tambak.

Sedangkan untuk ikan nila maupun bandeng bisa menghasilkan 2 s/d 3 ton sekali panen. “Namun setelah terimbas banjir, paling hanya tersisa ratusan kilo saja. Padahal para petani tambak yang berjumlah sekitar 40 orang itu, kebanyakan modalnya adalah hutang, makanya pusing juga memikirkannya,” katanya.

Sementara Abdul Rauf berharap agar petani tambak budidaya diasuransikan oleh pihak DKPP Kota Lhokseumawe, sehingga jika terjadi sewaktu-waktu musibah banjir seperti sekarang ini petambak bisa tertolong. “Minimal hutang untuk modal membeli bibit, obat-obatan dan perbaikan tambak bisa terbantu dari asuransi, sekarang kami bingung bagaimana caranya untuk mengambalikan pinjaman modal kepada pihak ketiga,” sebutnya. (fat)

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments